Pada abad 20
ini banyak tokoh yang memperbincangkan adanya hubungan islam dan sains meskipun
ada beberapa kalangan yang menentang adanya interaksi antara keduanya. Perbincangan itu melahirkan empat tipologi
hubungan islam dan sains. Tipologi ini berlaku pada disiplin-disiplin ilmu yang
ilmiah seperti fisika, kimia, matematika, astronomi, kedokteran, biologi dan
lain sebagainya. Ada empat macam tipologi yaitu: konflik, independensi, dialog
dan integrasi. Adapun empat tipologi
tersebut yaitu:
1.
Tipologi Konflik
Tipologi konflik ini tidak mengakui adanya hubungan islam dan
sains. Alasan terjadinya konflik ini karena kelompok fundamentalisme menyatakan
bahwa islam itu berbeda atau bertentangan dengan sains. Fundamentalisme adalah
kelompok yang merasa dirinya benar dan menyalahkan kelompok yang lain. Penganut
dari tipologi konflik ini adalah materialisme ilmiah dan literalisme kitab
suci. Agama dan sains ini dianggap sebagai dua wilayah yang sangat berbeda dan
bertentangan sehingga banyak orang yang menerima sains dan menolak agama,
adapula yang menerima agama dan menolak sains.
Materialisme ilmiah
menganggap bahwa sains itu bersifat obyektif, terbuka dan progressif sedangkan
agama itu bersifat subyektif, tertutup dan statis. Menurut kelompok ini, metode
ilmiyah adalah satu-satunya cara yang sah untuk mendapatkan kebenaran karena
menggunakan realita empiris. Mereka juga berkeyakinan bahwa agama bukanlah data
yang valid dan tidak dapat di uji kebenarannya. Literalisme kitab suci
berkeyakinan bahwa satu-satunya yang benar adalah kitabsuci karena ia merupakan
wahyu dari tuhan yang bersifat kekal.
2.
Tipologi Independensi
Tipologi independensi ini berpendapat bahwa tidak perlu terjadi
konflik antara islam dan sains karena ranah wilayah sains itu berbeda dengan
agama. Sains merupakan kajian atas alam yang keyakinannya berdasarkan penemuan
manusia. Selain itu, sains juga merupakan pengamatan dan penalaran manusia.
Lingkup utama sains adalah alam semesta beserta fenomenanya. Sedangkan agama merupakan beberapa aturan
bersikap dari tuhan. Menurut keyakinannya, agama bergantun kepada kehendak
tuhan sepenuhnya dan dibangun berdasarkan wahyu tuhan. Lingkup utamanya yaitu
kehendak tuhan adalah norma dan prilaku manusia.
Langdon GIldey memetakan islam dan sains sesuai dengan tipologi
ini, yaitu:
A. Sains menjelaskan data yang bersifat
obyek, public dan dapat di ulang. Agama menjelaskan eksistensi tatanan dan
keindahan dunia serta pengalaman kehidupan dalam (rasa bersalah, kecemasan
dll).
B. Sains mengajukan pertanyaan
“bagaimana” yang obyektif, Agama
mengajukan pertanyaan “mengapa” tentang makna tujuan serta asal mula dan takdir
tuhan.
C. Basisi otoritas dalam sains adalah
koherensi logis dan kesesuaian eksperimen mental, otoritas tertinggi agama
adalah tuhan dan wahyu-Nya.
D.
Sains melakukan prediksi kuantitatif
yang dapat di uji secara eksperimental, agama harus menggunakan symbol dan
analogis karena tuhan bersifat ghoib (transenden).
3.
Tipologi Dialog
Jika Tipologi Konflik tidak pernah bisa mempertemukan antara islam
dan sains, begitu juga dengan tipologi independensi yang menyatakan bahwa islam
dan sains masing-masing memiliki ranah wilayah yang berbeda maka Tipologi
Dialog ini merupakan pencarian hubungan antara islam dan sains secara ilmiah
baik dari persamaan maupun perbedaannya.
Secara konseptual, dialog hubungan islam dan sains menyentuh ranah
pembahasan diluar wilayahnya sendiri. Dimana masalah yang di dialog kan bisa di
analogikan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak bisa di jelaskan secara
langsung atau bahkan tidak bisa di analisis secara empiris sehingga mendapatkan
konsep yang valid sesuai dengan masalah yang di analogikan tersebut.
Untuk menjaawab berbagai pertanyaan yang kadang tidak bisa dicapai
oleh logika kita, tipologi dialog ini sangat membantu untuk memecahkan masalah akibat
kegalauan dan kegundahan yang dirasakan.
Penganut
tipologi dialog ini berpendapat bahwa agama dan sains jelas berbeda secara
logis dan linguistik, tetapi mereka sadar bahwa islam dan sains tidak bisa
dikotak-kotakkan dengan mutlak dalam dunia nyata, sebagaimana diandaikan oleh
pendekatatan indenpendensi.
4.
Tipologi Integrasi
Tipologi ini melahirkan keharmonisan antara islam dan sains.
Hubungan keduanya juga friendly karena tipologi ini mencoba memadukan antara
islam dan sains. Masing-masing islam dan sains dianggap valid sehingga menjadi
sumber dalam pandangan dunia.
Ada tiga versi
berbeda dalam integrasi, yaitu:
a.
Natural Theology, mengklaim bahwa
eksistensi Tuhan dapat disimpulkan dari bukti tentang desain alam, yang dengan
keajaiban struktur alam membuat kita semakin menyadari bahwa alam ini adalah
karya Allah Swt. semata.
b.
Theology Of Nature, berangkat dari
tradisi keagamaan berdasarkan pengalaman keagamaan dan wahyu historis. Theology
of Nature tidak berangkat dari sains sebagaimana natural
theology, Dalam theology of
nature, ia berpendapat bahwa sumber utama teologi terletak di luar sains,
tetapi ia juga berpendapat bahwa beberapa doktrin tradisional harus
dirumuskan ulang dalam sinaran sains terkini. Karena secara khusus,
doktrin tentang penciptaan dan sifat dasar manusia dipengaruhi oleh
temuan-temuan sains.
c.
Sintesis Sistematis. Integrasi yang
lebih sistematis dapat dilakukan jika sains dan agama memberikan
kontribusi ke arah pandangan dunia yang
lebih koheren yang dielaborasi dalam kerangka metafisika yang komprehensif. [1]
Sumber:
Modul Mata Kuliah Islam dan
Sains semester 5 Teknik Informatika Fakultas Sains Teknologi UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta tahun Akademik 2012/2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar