Jumat, 30 November 2012

TIPOLOGI HUBUNGAN AGAMA DAN SAINS


TIPOLOGI HUBUNGAN ISLAM DAN SAINS
Pada abad 20 ini banyak tokoh yang memperbincangkan adanya hubungan islam dan sains meskipun ada beberapa kalangan yang menentang adanya interaksi antara keduanya.  Perbincangan itu melahirkan empat tipologi hubungan islam dan sains. Tipologi ini berlaku pada disiplin-disiplin ilmu yang ilmiah seperti fisika, kimia, matematika, astronomi, kedokteran, biologi dan lain sebagainya. Ada empat macam tipologi yaitu: konflik, independensi, dialog dan integrasi.  Adapun empat tipologi tersebut yaitu:
1.      Tipologi Konflik
Tipologi konflik ini tidak mengakui adanya hubungan islam dan sains. Alasan terjadinya konflik ini karena kelompok fundamentalisme menyatakan bahwa islam itu berbeda atau bertentangan dengan sains. Fundamentalisme adalah kelompok yang merasa dirinya benar dan menyalahkan kelompok yang lain. Penganut dari tipologi konflik ini adalah materialisme ilmiah dan literalisme kitab suci. Agama dan sains ini dianggap sebagai dua wilayah yang sangat berbeda dan bertentangan sehingga banyak orang yang menerima sains dan menolak agama, adapula yang menerima agama dan menolak sains.

      Materialisme ilmiah menganggap bahwa sains itu bersifat obyektif, terbuka dan progressif sedangkan agama itu bersifat subyektif, tertutup dan statis. Menurut kelompok ini, metode ilmiyah adalah satu-satunya cara yang sah untuk mendapatkan kebenaran karena menggunakan realita empiris. Mereka juga berkeyakinan bahwa agama bukanlah data yang valid dan tidak dapat di uji kebenarannya. Literalisme kitab suci berkeyakinan bahwa satu-satunya yang benar adalah kitabsuci karena ia merupakan wahyu dari tuhan yang bersifat kekal.

2.      Tipologi Independensi
Tipologi independensi ini berpendapat bahwa tidak perlu terjadi konflik antara islam dan sains karena ranah wilayah sains itu berbeda dengan agama. Sains merupakan kajian atas alam yang keyakinannya berdasarkan penemuan manusia. Selain itu, sains juga merupakan pengamatan dan penalaran manusia. Lingkup utama sains adalah alam semesta beserta fenomenanya.  Sedangkan agama merupakan beberapa aturan bersikap dari tuhan. Menurut keyakinannya, agama bergantun kepada kehendak tuhan sepenuhnya dan dibangun berdasarkan wahyu tuhan. Lingkup utamanya yaitu kehendak tuhan adalah norma dan prilaku manusia.

Langdon GIldey memetakan islam dan sains sesuai dengan tipologi ini, yaitu:
A. Sains menjelaskan data yang bersifat obyek, public dan dapat di ulang. Agama menjelaskan eksistensi tatanan dan keindahan dunia serta pengalaman kehidupan dalam (rasa bersalah, kecemasan dll).
B. Sains mengajukan pertanyaan “bagaimana”  yang obyektif, Agama mengajukan pertanyaan “mengapa” tentang makna tujuan serta asal mula dan takdir tuhan.
C.  Basisi otoritas dalam sains adalah koherensi logis dan kesesuaian eksperimen mental, otoritas tertinggi agama adalah tuhan dan wahyu-Nya.
D.     Sains melakukan prediksi kuantitatif yang dapat di uji secara eksperimental, agama harus menggunakan symbol dan analogis karena tuhan bersifat ghoib (transenden).

3.      Tipologi Dialog
Jika Tipologi Konflik tidak pernah bisa mempertemukan antara islam dan sains, begitu juga dengan tipologi independensi yang menyatakan bahwa islam dan sains masing-masing memiliki ranah wilayah yang berbeda maka Tipologi Dialog ini merupakan pencarian hubungan antara islam dan sains secara ilmiah baik dari persamaan maupun perbedaannya.

Secara konseptual, dialog hubungan islam dan sains menyentuh ranah pembahasan diluar wilayahnya sendiri. Dimana masalah yang di dialog kan bisa di analogikan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak bisa di jelaskan secara langsung atau bahkan tidak bisa di analisis secara empiris sehingga mendapatkan konsep yang valid sesuai dengan masalah yang di analogikan tersebut.

Untuk menjaawab berbagai pertanyaan yang kadang tidak bisa dicapai oleh logika kita, tipologi dialog ini sangat membantu untuk memecahkan masalah akibat kegalauan dan kegundahan yang dirasakan.
Penganut tipologi dialog ini berpendapat bahwa agama dan sains jelas berbeda secara logis dan linguistik, tetapi mereka sadar bahwa islam dan sains tidak bisa dikotak-kotakkan dengan mutlak dalam dunia nyata, sebagaimana diandaikan oleh pendekatatan indenpendensi.

4.      Tipologi Integrasi
Tipologi ini melahirkan keharmonisan antara islam dan sains. Hubungan keduanya juga friendly karena tipologi ini mencoba memadukan antara islam dan sains. Masing-masing islam dan sains dianggap valid sehingga menjadi sumber dalam pandangan dunia.
Ada tiga versi berbeda dalam integrasi, yaitu:
a.       Natural Theology, mengklaim bahwa eksistensi Tuhan dapat disimpulkan dari bukti tentang desain alam, yang dengan keajaiban struktur alam membuat kita semakin menyadari bahwa alam ini adalah karya Allah Swt. semata.
b.      Theology Of Nature, berangkat dari tradisi keagamaan berdasarkan pengalaman keagamaan dan wahyu historis. Theology of Nature tidak berangkat dari sains sebagaimana natural theology, Dalam theology  of nature, ia berpendapat bahwa sumber utama teologi terletak di luar sains, tetapi ia juga berpendapat bahwa beberapa doktrin tradisional harus dirumuskan ulang dalam sinaran sains terkini. Karena secara khusus, doktrin tentang penciptaan dan sifat dasar manusia dipengaruhi oleh temuan-temuan sains.
c.       Sintesis Sistematis. Integrasi yang lebih sistematis dapat dilakukan jika sains dan agama memberikan kontribusi ke arah pandangan  dunia yang lebih koheren yang dielaborasi dalam kerangka metafisika yang komprehensif. [1]

Sumber:
Modul Mata Kuliah Islam dan Sains semester 5 Teknik Informatika Fakultas Sains Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun Akademik 2012/2013 


                [1] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R. Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm.83-94.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar